Jumat, 23 Oktober 2015

Peternak Puyuh Mulai Risih dengan Pemadaman Listrik

Bengkulu-Warga Bengkulu sudah mulai risih dengan kebijakan PLN yang sering memadamkan listrik. pemadaman ini merugikan banyak warga, terutama para pengusaha. Salah satu pengusaha yang merasa rugi adalah Arjan(49) warga kelurahan Sidomulyo. Beliau merasakan dampak kerugian dari pemadaman listrik rutin terhadap usaha peternakan puyuhnya. Kerugian yang dialami yaitu sebesar 15% persen dari keuntungan yang didapatkan.  "kerugian dari pemadaman ini mencapai 15% dari penghasilan biasanya," Ungkap Arjan.
Menurut Arjan, pemadaman ini mengurangi banyak hal dalam peternakan puyuh. Selain produksi telur yang kurang, penetasan bibit baru juga mengalami penundaan dikarenakan listrik yang sering mati. Untuk puyuh yang baru menetas, jika sering mati lampu maka akan banyak anak puyuh yang akhirnya mati karena kedinginan. " Kebutuhan listrik sangat penting, sangat berkaitan dengan penetasan, perawatan, dan panen ternak puyuh. Jika tidak cepat diantisipasi maka akan membahayakan rumah-rumah industri, akan terancap bangkrut," tekan Arjan.
"Harusny pemerintah punya alternatif untuk para pengusaha, tidak dapat disamakan dengan dahulu lagi, karena Bengkulu saat ini sudah termasuk kota industri, jadi kebutuhan listrik itu sangat penting. " ujar Arjan. Selanjutnya Arjan berharap pemerintah dapat memahami usaha-usaha yang mayoritas butuh listrik. Selain itu mereka juga dapat memberikan alternatif energi agar tidak merugikan lagi para pengusaha..

Kekeringan Meresahkan Warga Talang Empat

Talang Empat- Masyarakat Bengkulu Tengah (Benteng) mulai merasakan dampak buruk dari fenomena kemarau. Saat ini mereka sangat sulit untuk memperoleh air, terutama air bersih untuk mandi dan kebutuhan sehari-hari. Untuk mendapatkan air bersih, para warga ini harus mencari-cari sumur yang masih layak pakai dan tidak mengalami kekeringan di sekitar lingkungan desa. Alternatif air dari sungai juga tidak dapat dimanfaatkan, karena kondisi air sungai yang tidak layak konsumsi.
Menurut salah satu warga Talang Empat, Zania(38) ketika diwawancarai kamis(22/10), mengatakan sejak beberapa bulan sumur kering, sungai kotor, sehingga warga sulit mendapatkan air. Air yang yang masih ada itu di sumur bor, namun jumlah sumur bor juga masih sedikit di desa talang empat. Air sungai juga tidak dapat digunakan karena kotor. Untuk mendapatkan air, biasanya Zania mencari-cari air yang layak pakai, terkadang meminta air di sumur saudaranya yang masih mempunyai air sumur yang bersih. "Biasa cari air di sumur pinggiran sawah atau kadang minta kepada saudara," jelas Zania.
Selain sumur yang kekeringan, sawah disini juga mulai mengering. Air yang biasanya difungsikan untuk mengairi sawah sudah mengering dari 3 bulan yang lalu, sehingga produksi padi di sawah terhambat. Hal ini membuat para petani menjadi kesulitan ekonomi. " Petani sawah mulai berhenti beraktifitas disawah sejak 3 bulan yang lalu, dikarenakan air yang mengering, " ungkap Zania.
Menurut BMKG, prediksi mereka yang di update di halaman resminya, mengatakan bahwa hujan akan mulai turun pada bulan November, dan untuk musim hujan diprediksikan akan mulai normal pada bulan desember. Sehingga masih cukup lama waktu yang akan ditempuh para warga sampai musim hujan tiba. Maka zania mengharapkan bantuan dari pemerintah daerah untuk memperhatikan mereka. Agar kebutuhan air bersih mereka dapat terpenuhi dan alternatif petani yang tidak dapat memproduksikan padi dapat mendapat bantuan dan solusi.